Gema Kalvari
Edisi 1259 - tahun ke=24
PEMBACAAN ALKITAB: Yunus 1:1-17
TEMA : KEPEDULIAN TUHAN DAN KETIDAKPATUHAN YUNUS
PENGANTAR
Kitab Yunus adalah salah satu kitab dalam kelompok Kitab Nabi-nabi Kecil di Perjanjian Lama, namun sangat unik dibandingkan kitab nabi lainnya. Kitab ini bukan berupa kumpulan nubuat, melainkan kisah naratif yang berisi pengalaman pribadi seorang nabi bernama Yunus bin Amitai. Latar belakang kitab ini terjadi pada masa kejayaan bangsa Asyur dengan ibukotanya, Niniwe – kota yang dikenal sangat kejam dan berdosa. Yunus dipanggil Tuhan untuk pergi menyampaikan pesan pertobatan kepada Niniwe, namun ia menolak dan justru melarikan diri ke Tarsis, arah yang berlawanan dari panggilan Allah. Kisah dalam pasal pertama menunjukkan ketegangan antara ketaatan terhadap Allah dan keengganan manusia untuk mengasihi musuhnya. Namun di balik ketidakpatuhan Yunus, Allah tetap menunjukkan kepedulianNya kepada Yunus, kepada para pelaut dan Niniwe.
PENJELASAN TEKS
Ayat 1-3 : Panggilan Allah dan Ketidaktaatan Yunus.
Tuhan memberi perintah yang jelas: pergi ke Niniwe dan serukan pertobatan. Yunus bukan nabi yang tidak paham perintah, tetapi ia memilih untuk melawan kehendak Allah, bukan karena tidak tahu tetapi karena tidak ingin Niniwe diselamatkan. Ia pergi ke Yafa dan naik kapal ke Tarsis, sebuah tindakan melarikan diri secara fisik dari hadapan Allah – suatu ironi karena tidak ada tempat yang tersembunyi dari Allah.
Ayat 4-10 : Badai Besar dan Kesadaran Para Pelaut.
Tuhan bertindak cepat untuk menggagalkan pelarian Yunus dengan mengirim badai. Para pelaut merespon secara rohani dengan berdoa, menyelamatkan kapal bahkan mencari tahu penyebabnya sedangkan Yunus tetap tidur di tengah badai. Hal ini menggambarkan hati yang mati rasa terhadap kehendak Tuhan.
Ayat 11-17 : Pengakuan Yunus dan Pengaturan Allah.
Yunus tidak bertobat tetapi memilih menyerah kepada maut daripada taat kepada Allah. Tuhan tetap memakai keadaan buruk untuk menyatakan kasihNya :
a. Para pelaut menjadi takut kepada TUHAN dan mempersembahkan korban.
b. TUHAN mengatur penyelamatan dan bukan hukuman. Tuhan berdaulat atas laut, alam, manusia bahkan hewan untuk menggenapi rencana-Nya.
PENERAPAN
1) Tuhan peduli pada dunia yang berdosa (Niniwe), pada orang yang mengenalnya (pelaut) dan pada orang yang tidak taat (Yunus).
2) Kita sering seperti Yunus – sudah mengetahui kehendak Tuhan tetapi tetap memilih untuk jalan sendiri karena luka, kebencian dan rasa tidak adil.
3) Pelayanan bukan soal kenyamanan, tetapi ketaatan. Ketika menghindar, Tuhan tetap mengarahkan kembali hidup kita lewat badai, konflik atau pengalaman pahit.
4) Dalam gereja, kita diundang untuk tidak tidur rohani saat dunia sedang menghadapi badai.
5) Belajar dari para pelaut, mereka bertobat dan percaya kepada Tuhan serta mempersembahkan korban meski tidak memiliki latar belakang rohani.
Gema Kalvari
PEMBACAAN ALKITAB: 2 Tawarikh 31:2-21
TEMA : PERSEMBAHAN PERSEPULUHAN MEMBAWA BERKAT DAN KEBERHASILAN
PENGANTAR
Minggu 27 Juli 2025 adalah hari ke-208 dalam periode Triwulan III (Juli- Agustus-September) minggu ke-30 dalam minggu Trinitas atau minggu biasa.
Fokus tahun pelayanan 2025 adalah “kesehatian”, penekanan kepada sinergitas pikiran, hati dan Tindakan di dalam melaksanakan semua Keputusan gereja dan melahirkan budaya baru berbasis nilai-nilai kehatian, ketekunan, kesetiaan dan ketaatan.
Tema Triwulan III – Sehati Membangun MezbahPenyembahan Syukur kepada Allah.
Tema bulan Juli 2025 – Persepuluhan Sebagai Penyembahan Kita.
Firman Tuhan 2 Tawarikh 31:2021 dengan tema tekstual – Persembahan Persepuluhan Membawa Berkat dan Keberhasilan.
Dari Perjanjian Lama dapat belajar dari kehidupan bangsa Israel yang diperintahkan untuk beribadah kepada Tuhan, karena itu dari 12 suku bangsa Israel telah mengkhususkan suku Lewi untuk melayani Tuhan di dalam Bait Allah sehingga kehidupan suku Lewi harus ditopang dari suku yang lain melalui persembahan.
Pembacaan 2 Tawarikh 31:2-21, Hizkia mengatur sumbangan untuk para Imam dan Orang Lewi, dengan tujuan mengajak umat Israel untuk memberi persembahan kepada Tuhan.
PENERAPAN
1. Hizkia sebagai raja yang selalu mencari petunjuk Allah, tidak hanya memerintah rakyatnya untuk memberi persembahan tetapi ia sendiri memberi contoh dan teladan. Marilah sebagai pemimpin memberi contoh terlebih dahulu dalam memberi persembahan sebelum memerintah orang lain atau warga jemaat untuk memberi.
​
2. Setelah mendapat perintah dari Hizkia untuk memberi persembahan yang menjadi bagian para Imam dan Orang Lewi, rakyat dan penduduk Yerusalem taat untuk memberi sehingga berkecukupan bahkan berkelimpahan. Dengan memberi tidak akan berkekurangan karena Tuhan memberkati umat-Nya.
3. Belajar dari teladan Hizkia, sebagai raja ia selalu berpedoman pada Taurat Tuhan sehingga berhasil dan hidup takut akan Tuhan.
​
Marilah sebagai warga gereja, kita memberi persembahan persepuluhan dan hidup takut akan Tuhan dengan mentaati akan Firman-Nya, kehidupan menjadi berhasil dan diberkati.
Amin.


